Jumat, 04 September 2015

Love Is Pain


 Ini cerita kita,
Yang berawal dengan perlahan,

Tapi terasa begitu pasti dan tak ada keraguan sedikitpun,

Ciptakan kisah klasik disetiap jejak yang ditinggal,

Begitu pasti, tak terlihat samar, apalagi memudar,

Umur? Sudah tak kita pedulikan,

Yang terpenting ini terasa indah.

“aku memilikimu” , “kamu memilikiku”, itu sudah dari cukup,

Perjumpaan yang begitu jarang akhir-akhir ini, tak masalah bagiku, karena aku percaya, “aku memlikimu”, “kamu memilikiku”, “aku percaya padamu”, dan
“kamu percaya padaku”.

Hingga akhirnya aku meragu, dan mulai bertanya pada hati

“masihkah ini cerita kita?”

“atau ada yang lain?”

“masihkah warna di antara kita seindah dulu?”

“atau sudah ada warna gelap yang menyelinap di antara warna indah ini?”

Dan mulai kurasa ada hal yang berbeda dari kenyamanan ini. “mungkinkah ada warna yang menutupi warnaku disana?” dan cahaya ini makin meredup. Aku ingin kamu benar-benar yakinkan aku. Katakan padaku kamu benar-benar peduli. Katakan padaku hubungan kita baik-baik saja.

“Ini hanya rasa rindu”, kucoba tenangkan hati yang meragu. Dan tersenyum lirih. “Sabarlah, dia akan pulang sebentar lagi?”, hingga kubertanya padamu untuk bersua, untuk melepas secercah rindu dan cemas dalam hati.

Tapi,

Apa yang ku dapat, kamu menolak ajakanku dengan santainya.

Dihujung pembicaraan kamu akhiri semua ini.

Akh,,,, begitu sakit. “Awal yang berlahan kamu akhiri dengan tiba-tiba”. Bagaimana aku menggambarkan rasa sakit ini agar engkau mengerti? Aku tak sanggup menggambarkannya sedikitpun. Hanya hangatnya air mata yang mengalir di pipi yang seutuhnya mengerti rasa ini.

Aku ingin berteriak, “Aku benci padamu....!”, tapi hati tak membencimu.

Hati hanya berharap kehadiranmu lagi.

Semakin gila

Dan hati semakin gila menginginkanmu kembali,

Menginginkan kamu yang menoreh luka kembali ke hati yang terluka lagi, “keinginan hati yang gila”.

Begitu lirih jalani hari demi hari dengan tangisan keputusasaan.

Cemas menari indah dalam penantian tanpa kepastian.

Aku membenci keputusanmu...

Seperti ada yang tersembunyi dalam setiap alasanmu. Aku tak mengerti, itu hanya alasan penyelamatan dirimu. “Klasik”.

Bodohnya aku yang jatuh cinta dengan tingkah polosmu, dengan tutur lembutmu, dengan kehangatanmu.

Ternyata hanya kebodohan yang menyakitkan...

Sesakit apapun itu, akan kutunggu hingga akhir. Karena cinta ini nyata dan tak kamu hargai hingga akhir.


“Ah sudah lah, semuanya telah terjadi”, mencoba untuk berdamai dengan hati. Untukmu aku ingin berterima kasih, melepasku dengan terluka. Ini caranya untuk mengingat begitu berharganya dirimu untukku. Yang Kuasa punya jalan yang lebih indah untuk kita. Mungkin saja di hujung jalan sana kita akan bersua lagi entah dengan cara apapun.

Untukmu aku ingin berterimakasih, melepasku dengan terluka. Bukan kali ini, tapi sudah berkali-kali. Yang Kuasa ajarkan aku untuk jadi wanita tangguh. Kelak jika kita masih dipertemukan dengan cara apapun, aku akan tersenyum dan berterimakasih padamu.

Untukmu aku ingin berterimakasih, melepasku dengan terluka. Yang Kuasa ajarkan aku untuk lebih berhati-hati memilih pasangan. Ini saatnya aku untuk serius, pasangan bukan hanya untuk sekedar status. Disaat aku berkomitmen “Kamu akan jadi yang terakhir”. Akh, ini sudah berakhir. Tapi tetap ingin kuperjuangkan, hingga Yang Kuasa berkata “Ini yang terbaik untukmu”. Entah itu engkau, atau bukan.

Untukmu aku berteimakasih, melepasku dengan terluka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar